Makam Gede Ing Suro
Lokasi: Kelurahan I Ilir, Palembang
Kordinat GPS: 2°58’40.60″S, 104°47’32.62″E
Kota Palembang hingga kini masih dipercayai masyarakat Melayu sebagai tanah leluhurnya. Menurut kisah, di kota inilah hadir seorang tokoh yang menjadi cikal bakal Raja Melayu pertama yaitu Parameswara yang turun dari Bukit Siguntang. Pada saat yang bersamaan, Kerajaan Sriwijaya runtuh, maka bermunculan kekuatan-kekuatan lokal seperti Panglima Bagus Kuning di hilir Sungai Musi, Si Gentar Alam di daerah Perbukitan, Tuan Bosai dan Junjungan Kuat di daerah hulu Sungai Komering, Panglima Gumay di sepanjang Bukit Barisan. Kemudian Parameswara meninggalkan Palembang bersama Sang Nila Utama menuju Tumasik. Tanah Tumasik diberi nama Singapura oleh Parameswara.
Pada saat pasukan Majapahit akan menyerang Singapura, Parameswara bersama pengikutnya pindah ke Malaka, kemudian mendirikan Kerajaan Malaka. Beberapa keturunannya membuka negeri baru di daerah Pattani dan Narathiwat (sekarang wilayah Thailand bagian selatan). Hubungan dagang yang kuat dengan orang–orang Gujarat dan Persia menyebabkan perekonomian Malaka berkembang pesat. Kemudian Parameswara memeluk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Iskandar Syah. Read more »
Masjid Lawang Kidul
Lokasi : Kel. Lawang Kidul, Kec. Ilir Timur II, Palembang
Kordinat GPS : 2°58’51.37″S, 104°46’31.70″E
Kiai Muara Ogan yang memiliki nama asli Massagus Haji Abdul Hamid selain membangun Masjid Kiai Muara Ogan juga membangun Masjid Lawang Kidul. Masjid ini terletak di muara Sungai Lawang Kidul, berdiri diatas tanjung muara pertemuan Sungai Lawangkidul dengan Sungai Musi. Dibangun pada tahun 1310 H (1890 M), masjid ini diberi nama Lawang Kidul, sesuai dengan posisi pintu utama masjid yang menghadap selatan, berhadapan langsung dengan Sungai Musi.
Dilihat dari posisi kedua masjid peninggalan Kiai Muara Ogan berada di tepi Sungai Musi, besar kemungkinan sebagian besar aktifitas beliau berada di kawasan perairan Sungai Musi. Biasanya beliau menggunakan perahu kayu mengarungi Sungai Musi bersama murid-muridnya.
Arsitektur Masjid Lawang Kidul menyerupai Masjid Agung Palembang dan Masjid Kiai Muara Ogan. Ada ciri khas pada Masjid Lawang Kidul, yakni menara masjid memiliki tiga undakan pada bagian tubuh menara. Kemudian, atap masjid pada bangunan utama melebar memayungi ruangan utama di bawahnya. Read more »
Masjid Jami’ Muntok
Lokasi : Pusat Kota Muntok, Bangka
Kordinat GPS : 2° 3’59.53″S, 105° 9’42.16″E
Keberadaan Masjid Jami’ Muntok tidak terlepas dari sejarah berdirinya kota Muntok dimana pada awal abad ke-18 pulau Bangka masih menjadi wilayah Kesultanan Palembang Darussalam.
Sejarah Muntok dimulai pada kisaran tahun 1724–1725. Pada saat itu, Sultan Mahmud Badaruddin I memberikan instruksi kepada istrinya (Mas Ayu Ratu) dan beberapa petinggi kerajaan untuk meninjau secara langsung wilayah yang akan digunakan sebagai tempat tinggal keluarga kerajaan dari negeri Siantan. Kemudian Sultan memerintahkan Wan Akub untuk mendirikan tempat tinggal keluarga kerajaan dari negeri Siantan di ujung pulau Bangka yang berdekatan dengan muara Sungai Musi.
Pada perkembangan berikutnya, setelah terbentuk komunitas kecil di daerah itu, maka disebutlah daerah itu dengan nama “Muntok” , sedangkan Tanjung yang pertama kali dilihat dan ditunjuk oleh Mas Ayu Ratu diberi nama Tanjung Kelihatan yang selanjutnya lazim disebutl “Tanjung Kelian”. Kemudian diangkatlah Wan Akub sebagai Kepala Pemerintahan di daerah yang baru dibuka itu. Atas perintah Sultan, maka untuk tahap pertama dibangun 7 (tujuh) Bubung Rumah di daerah tersebut (Muntok). Setelah pembangunannya selesai, Wan Akub diangkat menjadi Kepala Urusan Penambangan Timah yang berkedudukan di Muntok dengan gelar Datuk Rangga Setia Agama. Read more »
Masjid Jami’ Pangkalpinang
Lokasi : Pusat Kota Pangkalpinang
Kordinat GPS : 2°7’46.65″S, 106°6’42.64″E
Masjid Jami’ Pangkalpinang salah satu masjid tua di Propinsi Bangka Belitung. Lokasi masjid di pusat Kota Pangkalpinang, berada diantara Jalan Kampung Dalam, di bagian timur, dan Jalan Kenangan, di bagian barat. Sisi selatan masjid merupakan kediaman ulama setempat, sisi utara masjid adalah Sungai Rangkui. Karena letaknya yang sangat strategis, biasanya menjadi tempat singgah para musafir dan pekerja kantoran yang melaksanakan sholat dhuhur.
Saat ini bangunan masjid terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama digunakan sebagai tempat sholat. Ruang utamanya mampu menampung 600 jema’ah. Lantai kedua digunakan untuk penyimpanan kitab-kitab, buku-buku ajaran Islam, tikar dan alat perlengkapan masjid lainnya. Lantai ketiga digunakan untuk mengumandangkan adzan.
Pertama kali dibangun pada tanggal 3 Syawal 1355 Hijriah, atau pada tanggal 18 Desember 1936 Masehi. Data itu tertulis di atas meja yang terbuat dari batu marmar putih yang terletak di depan masjid. Bentuk awalnya tidak seperti sekarang ini. Keadaan masjid saat itu masih menggunakan dinding papan, berlantai semen dan beratap genteng. Letaknya juga sudah berubah, diperkirakan awalnya berada di antara tempat wudlu dan menara masjid yang sekarang. Dahulu, di sekelilingnya adalah rawa-rawa, sungai dan pepohonan rumbia. Read more »
Masjid Kiai Muara Ogan
Lokasi: Muara Sungai Ogan, Kertapati, Palembang, Sumatera Selatan
Koordinat GPS: 3° 0’54.08″S, 104°45’0.24″E
Selain Masjid Agung Palembang, masjid bersejarah yang berada di kota Palembang adalah Masjid Kiai Muara Ogan (Masjid Merogan). Masjid Agung Palembang dan Masjid Kiai Muara Ogan ini berperan sama dalam penataan kehidupan masyarakat Palembang di masa Kesultanan Palembang Darussalam berjaya. Peran dan fungsi yang dibawa Masjid Agung Palembang memiliki pengaruh pada pranata struktur pemerintahan dan sistem ketatanegaraan Kesultanan Palembang, sedangkan Masjid Kiai Muara Ogan memiliki fungsi perbaikan kultural dan sosial rakyat Palembang.
Masjid Kiai Muara Ogan dibangun sekitar tahun 1871 oleh seorang ulama yang juga seorang saudagar kaya bernama Kiai Masagus Haji Abdul Hamid bin Mahmud. Beliau populer dengan nama Kiai Muara Ogan. Pada awal dibangunnya, luas Masjid Kiai Muara Ogan 20 meter x 25 meter persegi. Read more »
Masjid Al-Ikhlas
Lokasi: Jl. Penghulu Desa Sijuk, Kecamatan Sijuk, Belitung
Kordinat GPS : 2°33’56.60″S, 107°45’54.87″E
Masjid Al-Ikhlas merupakan saksi sejarah perjuangan masyarakat Belitung melawan kolonial Belanda. Pada saat itu, masjid tua ini menjadi pusat komando perjuangan rakyat Belitung. Dalam kesederhanaan arsitekturnya, terekaman sejarah perjuangan rakyat yang tak kenal lelah dalam menghadapi penjajah.
Pertama kali dibangun pada tahun 1817 di desa Sijuk, Pulau Belitung di ujung sebelah utara. Dinding masjid berwarna coklat dan memiliki atap berundak dua. Di samping masjid terdapat ruang aula pertemuan dalam bentuk menyerupai masjid. Sehingga Masjid Al-Ikhlas seakan memiliki dua masjid kembar.
Arsitektur masjid mencirikan bangunan khas daerah Belitung. Bentuk masjid bujursangkar, memiliki ukuran 8 meter x 8 meter. Masih asli dan tetap dipertahankan hingga sekarang. Bagian mihrab agak menjorok dari bangunan utama dan diberi atap dengan bentuk yang sama dengan bangunan utamanya. Bagian atas mihrab tertera tanggal perbaikan masjid dengan huruf arab Melayu, bertuliskan “diperbaiki 1 rajab 1370 H”. Seluruh bagian masjid terbuat dari material kayu. Hanya lantainya yang sudah berganti keramik. Read more »
Makam Kawah Tekurep
Lokasi : Kelurahan 3 Ilir Lemahabang, Palembang, Sumatera Selatan
Kordinat GPS : 2°58’45.00″S, 104°46’59.60″E
Makam Kawah Tekurep adalah komplek pemakaman para sultan dan keluarga Kesultanan Palembang Darussalam beserta para guru agama pada masanya. Pertamakali dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo pada tahun 1728. Kemudian dilanjutkan pembangunan Gubah Tengah di areal pemakaman oleh Sultan Ahmad Najamuddin I Adi Kesumo.
Tiap tahun menjelang bulan suci ramadhan, di pemakaman ini selalu diadakan haul dan ziarah kubra ulama dan auliyah Palembang Darussalam yang dihadiri tidak hanya oleh masyarakat Palembang tapi juga dari penjuru tanah air, bahkan dari manca negara.
Keluarga Kesultanan Palembang dan Guru Agama yang dimakamkan di pemakaman tersebut antara lain adalah : Read more »
Masjid Agung Palembang
Lokasi : Jl. Jenderal Sudirman No. 1, Palembang, Sumatera Selatan
Kordinat GPS : 2°59’16.42″S, 104°45’36.15″E
Masjid Agung Palembang bagian dari peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam, dan menjadi salah satu masjid tertua di Kota Palembang. Masjid ini berada di utara Istana Kesultanan Palembang, di belakang Benteng Kuto Besak yang berdekatan dengan aliran sungai Musi. Secara administratif, masjid ini berada di Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I, tepat di pertemuan Jalan Merdeka dan Jalan Sudirman, pusat Kota Palembang.
Masjid Agung Palembang mulai dibangun pada tahun 1738 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo. Pembangunan berlangsung selama 10 tahun dan resmi digunakan sebagai tempat peribadatan umat muslim Palembang pada tanggal 28 Jumadil Awal 1161 H atau 26 Mei 1748 M. Read more »
-
Recent
-
Links
-
Archives
- January 2009 (2)
- December 2008 (6)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
