<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Persada Nusantara</title>
	<atom:link href="http://herimulyono.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://herimulyono.wordpress.com</link>
	<description>Catatan Perjalanan Heri Mulyono</description>
	<lastBuildDate>Thu, 08 Dec 2011 19:45:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='herimulyono.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Persada Nusantara</title>
		<link>http://herimulyono.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://herimulyono.wordpress.com/osd.xml" title="Persada Nusantara" />
	<atom:link rel='hub' href='http://herimulyono.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Makam Gede Ing Suro</title>
		<link>http://herimulyono.wordpress.com/2009/01/20/makam-gede-ing-suro/</link>
		<comments>http://herimulyono.wordpress.com/2009/01/20/makam-gede-ing-suro/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 03:51:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herimulyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Makam]]></category>
		<category><![CDATA[Bukit Siguntang]]></category>
		<category><![CDATA[Gede Ing Suro]]></category>
		<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Kerajaan Sriwijaya]]></category>
		<category><![CDATA[Makam Gede Ing Suro]]></category>
		<category><![CDATA[Mosque]]></category>
		<category><![CDATA[Palembang]]></category>
		<category><![CDATA[Panglima Bagus Kuning]]></category>
		<category><![CDATA[Parameswara]]></category>
		<category><![CDATA[Places]]></category>
		<category><![CDATA[Raja Melayu]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Musi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herimulyono.wordpress.com/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[Lokasi: Kelurahan I Ilir, Palembang Kordinat GPS: 2°58&#8217;40.60&#8243;S, 104°47&#8217;32.62&#8243;E Kota Palembang hingga kini masih dipercayai masyarakat Melayu sebagai tanah leluhurnya. Menurut kisah, di kota inilah hadir seorang tokoh yang menjadi cikal bakal Raja Melayu pertama yaitu Parameswara yang turun dari Bukit Siguntang. Pada saat yang bersamaan, Kerajaan Sriwijaya runtuh, maka bermunculan kekuatan-kekuatan lokal seperti Panglima [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herimulyono.wordpress.com&amp;blog=5684094&amp;post=148&amp;subd=herimulyono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-147" title="makam_gede_ing_suro" src="http://herimulyono.files.wordpress.com/2009/01/makam_gede_ing_suro.jpg" alt="makam_gede_ing_suro" width="300" height="183" />Lokasi:</strong> Kelurahan I Ilir, Palembang<br />
<strong>Kordinat GPS:</strong> <a href="http://maps.google.com/maps?f=q&amp;source=s_q&amp;hl=en&amp;q=-2.977944,+104.792394&amp;ie=UTF8&amp;geocode=FWiP0v8dSgE_Bg&amp;split=0" target="_blank">2°58&#8217;40.60&#8243;S, 104°47&#8217;32.62&#8243;E</a></p>
<p>Kota Palembang hingga kini masih dipercayai masyarakat Melayu sebagai tanah leluhurnya. Menurut kisah, di kota inilah hadir seorang tokoh yang menjadi cikal bakal Raja Melayu pertama yaitu Parameswara yang turun dari Bukit Siguntang. Pada saat yang bersamaan, Kerajaan Sriwijaya runtuh, maka bermunculan kekuatan-kekuatan lokal seperti Panglima Bagus Kuning di hilir Sungai Musi, Si Gentar Alam di daerah Perbukitan, Tuan Bosai dan Junjungan Kuat di daerah hulu Sungai Komering, Panglima Gumay di sepanjang Bukit Barisan. Kemudian Parameswara meninggalkan Palembang bersama Sang Nila Utama menuju Tumasik. Tanah Tumasik diberi nama Singapura oleh Parameswara.</p>
<p>Pada saat pasukan Majapahit akan menyerang Singapura, Parameswara bersama pengikutnya pindah ke Malaka, kemudian mendirikan Kerajaan Malaka. Beberapa keturunannya membuka negeri baru di daerah Pattani dan Narathiwat (sekarang wilayah Thailand bagian selatan). Hubungan dagang yang kuat dengan orang–orang Gujarat dan Persia menyebabkan perekonomian Malaka berkembang pesat. Kemudian Parameswara memeluk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Iskandar Syah. <span id="more-148"></span></p>
<p>Kota Palembang menjadi kota tak bertuan, tidak ada penguasa tunggal atas kota dagang ini. Namun kegiatan perekonomian tetap berjalan. Perdagangan antarbangsa berjalan dengan baik. Di kota ini pula bermukim para pembesar dan priyayi pendukung utama Kesultanan Demak, penguasa baru tanah Jawa. Mereka menyingkir dari Demak setelah kalah perang melawan Kerajaan Pajang pada tahun 1528. Rombongan asal Demak ini dipimpin oleh Kiai Gedeng Suro atau Ki Gede Ing Suro.</p>
<p>Selain pembesar dan priyayi, turut serta pula pasukan yang dipimpin oleh Raden Patah. Mereka memilih Palembang sebagai tempat yang aman. Selain karena Raden Patah (bergelar Jimbun Abdurrahman Panembahan Palembang Sayyidina Panatagama) adalah bangsawan Demak kelahiran Palembang. Beliau tumbuh sejak kecil di kota ini bersama ibunya, Putri Campa.</p>
<p>Raden Patah, Ario Damar dan Pati Unus, adalah tokoh dibalik hancurnya Kerajaan Majapahit. Mereka dikenal dari Ekspedisi Pamalayu. Raden Patah berhasil membangun kembali Palembang setelah Kerajaan Sriwijaya secara perlahan mulai melemah. Berselang kemudian, Majapahit mulai dilanda kekacauan, pemberontakan dan pecahnya perang saudara.</p>
<p>Ario Damar sendiri pada saat itu adalah seorang Mangkubumi Kerajaan Sriwijaya. Beliau memeluk Islam sejak kedatangan Raden Rahmat. Menjadi seorang muslim, Ario Damar mengganti namanya menjadi Ario Abdullah, yang populer dengan sebutan Ario Dillah.</p>
<p>Kehadiran Ki Gede Ing Suro di kota Palembang, memicu kedatangan pemukim-pemukim muslim baru dari Demak, Pajang dan Mataram. Mereka datang ke Palembang demi menghindari konflik politik berkepanjangan di tanah Jawa.</p>
<p>Jumlah pemukim muslim di kota Palembang meningkat. Peluang ini dijadikan momentum untuk memperteguh pengaruh Islam di Palembang menjadi sebuah kerajaan. Pemukim muslim mendirikan masjid yang berdekatan dengan Keraton Kuto Gawang. Sejak saat itu, Islam tumbuh pesat sebagai pedoman hidup pada hampir seluruh masyarakat Palembang.</p>
<p>Sebuah kerajaan Islam di Palembang akhirnya resmi berdiri pada tahun 1552 secara politik dari Kesultanan Demak. Adalah Ki Mas Hindi, disebut pula Pangeran Ratu atau Pangeran Ario Kusuma Abdurrohim, yang memiliki nama lain, Susuhunan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayyidul Imam, sebagai Sultan pertama kerajaan Islam di tanah Palembang. Beliau bergelar Sultan Jamaluddin Candi Walang, atau Sultan Ratu Abdul Rahman. Kerajaan Islam ini diberi nama Kesultanan Palembang Darussalam.</p>
<p>Sultan Jamaluddin kemudian diganti oleh Sultan Mansyur. Beliau didampingi seorang ulama besar, Tuan Faqih Jalaluddin. Setelah Sultan Mansyur, Kesultanan Palembang dipimpin oleh Sultan Mahmud Badaruddin, yang dikenal pula sebagai Sultan Lemah Abang.</p>
<p>Kesultanan Palembang Palembang Darussalam menggabungkan kebudayaan maritim peninggalan Sriwijaya dan budaya agraris Majapahit. Palembang kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan yang paling besar di Semenanjung Malaka.</p>
<p>Hadirnya Kesultanan Palembang Darussalam ini menjadi lembaran baru bagi kota Palembang sejak keruntuhan Sriwijaya. Hukum Islam diterapkan dalam aturan tatanegara dan ekonomi.</p>
<p>Ki Gede Ing Suro merupakan tokoh utama dibalik berdirinya Kesultanan Palembang Darussalam. Setelah wafat pada tahun 1587, beliau dimakamkan di sebuah daerah yang kini berada di Kelurahan I Ilir, kota Palembang. Setelah beliau dimakamkan, berturut-turut dimakamkan para pembesar Demak lainnya dan keluarganya, hingga mencapai 38 makam. Kompleks pemakaman ini kemudian dikenal sebagai Taman Purbakala Ki Gede Ing Suro.</p>
<p>Kompleks makam berupa bangunan fondasi yang terdiri dari tiga bangunan utama. Bangunan pertama memiliki luas 54 meter persegi, dengan tinggi 1,2 meter. Bangunan ini berdiri diatas dua lapik, lapik pertama berukuran 7 meter x 3,7 meter. Lapik kedua berukuran 16 meter x 11 meter. Diatasnya berdiri batur dengan tangga masuk yang berada di sisi selatan. Pada dinding batur terdapat panil berbentuk bujursangkar berpola hias geometris. Pada teras makam terdapat dua nisan dari kayu persegi pipih.</p>
<p>Bangunan kedua memiliki ukuran 8,45 meter x 5 meter dengan tinggi 90 sentimeter. Berdiri diatas satu lapik. Pola hias tangga sama dengan bangunan pertama. Disini terdapat tiga makam, dua makam di sisi utara, dan satu makam di sisi selatan. Jirat makam di sisi selatan berbentuk persegi panjang. Nisan makam terbuat dari batu andesit, puncaknya berbentuk kurawal dengan ujung meruncing.</p>
<p>Bangunan ketiga adalah yang terbesar, memiliki ukuran 8,75 meter x 9 meter. Memiliki teras berukuran 12,5 meter x 11,5 meter. Hiasan bangunan utama berupa ukiran bunga dan geometris. Pada teras hiasannya berupa sulur. Diatas bangunan terdapat tiga nisan makam yang bentuknya sama dengan bangunan kedua.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herimulyono.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herimulyono.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herimulyono.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herimulyono.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herimulyono.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herimulyono.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herimulyono.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herimulyono.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herimulyono.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herimulyono.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herimulyono.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herimulyono.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herimulyono.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herimulyono.wordpress.com/148/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herimulyono.wordpress.com&amp;blog=5684094&amp;post=148&amp;subd=herimulyono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herimulyono.wordpress.com/2009/01/20/makam-gede-ing-suro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/48cb1e23162b3915543580515702c849?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Heri</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://herimulyono.files.wordpress.com/2009/01/makam_gede_ing_suro.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">makam_gede_ing_suro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masjid Lawang Kidul</title>
		<link>http://herimulyono.wordpress.com/2009/01/04/masjid-lawang-kidul/</link>
		<comments>http://herimulyono.wordpress.com/2009/01/04/masjid-lawang-kidul/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 16:16:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herimulyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Arsitektur]]></category>
		<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Kaligrafi]]></category>
		<category><![CDATA[Kiai Muara Ogan]]></category>
		<category><![CDATA[Lawang Kidul]]></category>
		<category><![CDATA[Mighrab]]></category>
		<category><![CDATA[Mosque]]></category>
		<category><![CDATA[Palembang]]></category>
		<category><![CDATA[Places]]></category>
		<category><![CDATA[Soko Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera Selatan]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Musi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herimulyono.wordpress.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Lokasi : Kel. Lawang Kidul, Kec. Ilir Timur II, Palembang Kordinat GPS : 2°58&#8217;51.37&#8243;S, 104°46&#8217;31.70&#8243;E Kiai Muara Ogan yang memiliki nama asli Massagus Haji Abdul Hamid selain membangun Masjid Kiai Muara Ogan juga membangun Masjid Lawang Kidul. Masjid ini terletak di muara Sungai Lawang Kidul, berdiri diatas tanjung muara pertemuan Sungai Lawangkidul dengan Sungai Musi. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herimulyono.wordpress.com&amp;blog=5684094&amp;post=121&amp;subd=herimulyono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-123" title="masjid_lawang_kidul" src="http://herimulyono.files.wordpress.com/2009/01/masjid_lawang_kidul.jpg" alt="masjid_lawang_kidul" width="300" height="158" />Lokasi :</strong> Kel. Lawang Kidul, Kec. Ilir Timur II, Palembang<br />
<strong>Kordinat GPS :</strong> <a title="Masjid Lawang Kidul" href="http://maps.google.com/maps?f=q&amp;hl=en&amp;q=-2.980936,+104.775472&amp;ie=UTF8&amp;geocode=FbiD0v8dML8-Bg" target="_blank">2°58&#8217;51.37&#8243;S, 104°46&#8217;31.70&#8243;E</a></p>
<p>Kiai Muara Ogan yang memiliki nama asli Massagus Haji Abdul Hamid selain membangun Masjid Kiai Muara Ogan juga membangun Masjid Lawang Kidul. Masjid ini terletak di muara Sungai Lawang Kidul, berdiri diatas tanjung muara pertemuan Sungai Lawangkidul dengan Sungai Musi. Dibangun pada tahun 1310 H (1890 M), masjid ini diberi nama Lawang Kidul, sesuai dengan posisi pintu utama masjid yang menghadap selatan, berhadapan langsung dengan Sungai Musi.</p>
<p>Dilihat dari posisi kedua masjid peninggalan Kiai Muara Ogan berada di tepi Sungai Musi, besar kemungkinan sebagian besar aktifitas beliau berada di kawasan perairan Sungai Musi. Biasanya beliau menggunakan perahu kayu mengarungi Sungai Musi bersama murid-muridnya.</p>
<p>Arsitektur Masjid Lawang Kidul menyerupai Masjid Agung Palembang dan Masjid Kiai Muara Ogan. Ada ciri khas pada Masjid Lawang Kidul, yakni menara masjid memiliki tiga undakan pada bagian tubuh menara. Kemudian, atap masjid pada bangunan utama melebar memayungi ruangan utama di bawahnya.<span id="more-121"></span></p>
<p>Atap Masjid Lawang Kidul memiliki tiga undakan. Uniknya, undakan kedua seakan-akan menutupi undakan pertama. Diantara undakan kedua dan ketiga tidak ada diberi sekat jendela. Bagian puncak atap terpasang bulan sabit. Atap ruangan mihrab tidak sama dengan atap utama masjid. Atap mihrab dibuat sangat mirip dengan atap kelenteng.</p>
<p>Material masjid terdiri atas campuran batu kapur, putih telur dan pasir. Bahan-bahan inilah yang mempertahankan lamanya usia bangunan. Material utama lainnya adalah kayu unglen untuk unsur tiang, pintu, atap, dan jendela.</p>
<p>Pilar utama masjid yang terdiri dari empat soko guru setinggi 8 meter dengan 12 pilar pendamping setinggi 6 meter. Seluruh tiang masjid berbentuk segi-delapan. Empat alang (penyangga) atap sepanjang 20 meter juga terbuat dari kayu unglen yang disusun tanpa sambungan.</p>
<p>Tiang masjid lainnya terpasang di serambi. Ukurannya sedikit lebih besar dari tiang utama di ruangan utama. Pola pahatan tiang serambi berbentuk oval dengan sudut melengkung. Dasar dan puncak tiang dibentuk bulatan cincin.</p>
<p>Bahan atap pada mulanya genteng belah bambu, kemudian diganti dengan genteng kodok. Renovasi masjid dilaksanakan pada kurun tahun 1983-1987 untuk mengganti beberapa bagian masjid yang sulit dipertahankan lebih lama. Namun bentuk bangunan tidak diubah sama sekali. Bangunan utama masjid tetap berukuran 20 meter x 20 meter. Penambahan pada bagian tempat wudhu, toilet, kelas TK-TPA, kantor yayasan masjid, sehingga ukuran luas masjid menjadi 40 meter x 41 meter. Perbaikan dan penambahan dilakukan pada atap teras, pagar masjid dan turap.</p>
<p>Interior Masjid Lawang Kidul lebih sederhana dari Masjid Kiai Muara Ogan. Hiasan ukiran dan kaligrafi hanya terdapat pada mimbar dan langit-langit ruangan utama. Ukiran kayu membentuk sulur-sulur bunga pada mimbar menunjukkan unsur budaya Melayu yang menyatu dengan alam. Pada langit-langit ruangan utama, kaligrafi empat sahabat utama Rasulullah SAW terbingkai serasi dengan ukiran sulur-sulur bunga yang senada pada mimbar.</p>
<p>Sang pendiri masjid, Kiai Muara Ogan, sangat gigih dalam menyebarkan ajaran Islam di wilayah Sumatera Selatan yang dahulu menjadi wilayah kekuasaan Kesultanan Palembang Darussalam ini. Beliau sangat dikagumi masyarakat karena kesungguhannya mengembangkan pendidikan Islam di Palembang. Beliau jadikan masjid sebagai pusat penggemblengan santri-santri yang kelak akan menjadi penerus beliau menyebarluaskan ajaran Islam hingga ke pelosok wilayah Sumatera Selatan.</p>
<p>Peninggalan Kiai Muara Ogan tidak hanya Masjid Lawang Kidul dan Masjid Kiai Muara Ogan di Palembang. Beliau meninggalkan pula tiga unit pemondokan jemaah haji di Saudi Arabia, sebuah masjid di Dusun Pedu Pemulutan OKI-Sumatera Selatan, dan masjid di Dusun Ulak Kerbau Lama Pegagan Ilir-Sumatera Selatan.</p>
<p>Masjid Lawang Kidul dan Masjid Kiai Muara Ogan sampai kini tetap menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan. Di tempat inilah ajaran Islam disebarluaskan dan berkembang dengan sangat baik oleh seorang saudagar berpengetahuan agama yang luas.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herimulyono.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herimulyono.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herimulyono.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herimulyono.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herimulyono.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herimulyono.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herimulyono.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herimulyono.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herimulyono.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herimulyono.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herimulyono.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herimulyono.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herimulyono.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herimulyono.wordpress.com/121/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herimulyono.wordpress.com&amp;blog=5684094&amp;post=121&amp;subd=herimulyono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herimulyono.wordpress.com/2009/01/04/masjid-lawang-kidul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/48cb1e23162b3915543580515702c849?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Heri</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://herimulyono.files.wordpress.com/2009/01/masjid_lawang_kidul.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">masjid_lawang_kidul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masjid Jami&#8217; Muntok</title>
		<link>http://herimulyono.wordpress.com/2008/12/21/masjid-jami-muntok/</link>
		<comments>http://herimulyono.wordpress.com/2008/12/21/masjid-jami-muntok/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Dec 2008 16:13:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herimulyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herimulyono.wordpress.com/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Lokasi : Pusat Kota Muntok, Bangka Kordinat GPS : 2° 3&#8217;59.53&#8243;S, 105° 9&#8217;42.16&#8243;E Keberadaan Masjid Jami’ Muntok tidak terlepas dari sejarah berdirinya kota Muntok dimana pada awal abad ke-18 pulau Bangka masih menjadi wilayah Kesultanan Palembang Darussalam. Sejarah Muntok dimulai pada kisaran tahun 1724–1725. Pada saat itu, Sultan Mahmud Badaruddin I memberikan instruksi kepada istrinya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herimulyono.wordpress.com&amp;blog=5684094&amp;post=114&amp;subd=herimulyono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><strong><img class="alignleft size-full wp-image-116" title="masjid_jami_muntok" src="http://herimulyono.files.wordpress.com/2008/12/masjid_jami_muntok.jpg" alt="masjid_jami_muntok" width="300" height="194" />Lokasi :</strong> Pusat Kota Muntok, Bangka<br />
<strong>Kordinat GPS :</strong> <a title="Masjid Jami' Muntok" href="http://maps.google.com/maps?f=q&amp;hl=en&amp;q=-2.066536,+105.161711&amp;jsv=140g&amp;sll=37.0625,-95.677068&amp;sspn=29.219963,78.75&amp;ie=UTF8&amp;geocode=FZh34P8d76NEBg" target="_blank">2° 3&#8217;59.53&#8243;S, 105° 9&#8217;42.16&#8243;E</a></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Keberadaan Masjid Jami’ Muntok tidak terlepas dari sejarah berdirinya kota Muntok dimana pada awal abad ke-18 pulau Bangka masih menjadi wilayah Kesultanan Palembang Darussalam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Sejarah Muntok dimulai pada kisaran tahun 1724–1725. Pada saat itu, Sultan Mahmud Badaruddin I memberikan instruksi kepada istrinya (Mas Ayu Ratu) dan beberapa petinggi kerajaan untuk meninjau secara langsung wilayah yang akan digunakan sebagai tempat tinggal keluarga kerajaan dari negeri Siantan. Kemudian Sultan memerintahkan Wan Akub untuk mendirikan tempat tinggal keluarga kerajaan dari negeri Siantan di ujung pulau Bangka yang berdekatan dengan muara Sungai Musi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Pada perkembangan berikutnya, setelah terbentuk komunitas kecil di daerah itu, maka disebutlah daerah itu dengan nama “Muntok” , sedangkan Tanjung yang pertama kali dilihat dan ditunjuk oleh Mas Ayu Ratu diberi nama Tanjung Kelihatan yang selanjutnya lazim disebutl “Tanjung Kelian”. Kemudian diangkatlah Wan Akub sebagai Kepala Pemerintahan di daerah yang baru dibuka itu. Atas perintah Sultan, maka untuk tahap pertama dibangun 7 (tujuh) Bubung Rumah di daerah tersebut (Muntok). Setelah pembangunannya selesai, Wan Akub diangkat menjadi Kepala Urusan Penambangan Timah yang berkedudukan di Muntok dengan gelar Datuk Rangga Setia Agama.<span id="more-114"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Sultan Mahmud Badaruddin I wafat pada tahun 1756. Pengganti beliau adalah Sultan Ahmad Najamuddin. Pada saat yang hampir bersamaan, Muntok dalam suasana berkabung pula. Menteri Rangga dan Wan Muhammad wafat. Maka, Sultan Ahmad Najamuddin mengangkat petugas kerajaan setingkat tumenggung untuk menjadi Kepala Pemerintahan di Muntok sekaligus menjadi Kepala Pemerintahan Bangka. Diangkatlah Abang Pahang, salah satu keturunan Wan Abdul Hayat, menjadi Kepala Pemerintahan Bangka. Beliau diberi gelar Tumenggung Dita Menggala.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Kehadiran kolonialis Belanda di Muntok ditandai dengan pembangunan dermaga berbentuk jembatan panjang yang menjorok ke laut pada tahun 1860. Jembatan ini diberi nama Ujung Brug. Infrastruktur milik Belanda ini memudahkan arus perdagangan dan penumpang di Muntok dan sekitarnya pada masa itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Kemudian dibangun mercusuar pada tahun 1862 di Tanjung Kelian untuk kepentingan sistem navigasi pelayaran yang memasuki perairan Selat Bangka. Mereka menegaskan keberadaannya dengan mendirikan beberapa gedung penting di Muntok dan menjadikan Muntok sebagai pusat kota di Bangka. Diantaranya adalah Gedung BTW (Banka Tin Winning) eks Kantor Penambangan Timah Bangka yang dibangun pada tahun 1915, Rumah Residen Bangka yang dibangun pada kisaran tahun 1850-an. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Berkembangnya Muntok sebagai pusat kota di Bangka, disertai pula pembangunan masjid besar tempat peribadatan umat Islam disana. Atas prakarsa para ulama dan tokoh masyarakat pada waktu itu, dibangunlah sebuah masjid jami’ pada tahun 1883 (19 Muharam 1300 H). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Masjid tertua di Bangka ini dibangun pada masa pemerintahan H. Abang Muhammad Ali bergelar Tumenggung Karta Negara II, yang dibantu oleh tokoh masyarakat Muntok, H. Nuh dan H. Yakub. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Masjid Jami’ Muntok memiliki ukuran 21 meter x 23 meter. Tinggi masjid 6 meter, diukur dari lantai masjid yang posisinya lebih tinggi dari permukaan tanah 160 sentimeter.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Masjid Jami’ Muntok memiliki lima pintu yang mengartikan lima rukun Islam. Ketiga pintu utama masjid setinggi 2,7 meter memiliki lubang angin berbentuk kaligrafi ayat-ayat al-Qur’an, Surat al-A’la mulai ayat 14 sampai ayat 19. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Sisi kanan masjid memiliki sebuah pintu yang dinamakan Pintu Beduk. Disinilah bedug besar masjid berada. Diatas Pintu Beduk terukir kaligrafi surat Al-Baqarah ayat 148. Sisi kiri masjid memiliki sebuah pintu dengan ukiran kaligrafi berbeda. Terpahat Surat at-Thalaq ayat 2 pada bagian atas pintu. Kaligrafi pintu ini baru ada pada saat renovasi masjid beberapa tahun kemudian setelah diserang tentara Jepang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Kaligrafi mihrab masjid bertuliskan Surat Ali-Imran ayat 37. Kaligrafi mihrab menjadi satu-satunya kaligrafi yang tersisa setelah peristiwa penyerbuan tentara Jepang di Muntok. Beberapa pasukan Jepang menjarah beberapa kelengkapan masjid. Selain mihrab, mimbar masjid tua tersimpan dengan baik. Mimbar tua memiliki ornamen ukiran dedaunan. Bentuk mimbar lebih ramping dari mimbar yang digunakan sekarang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Enam buah pilar di depan masjid merupakan perpaduan gaya Doria dan Lonia, bentuk pilar yang dapat ditemui pada gedung-gedung buatan arsitek Belanda. Enam pilar didesain rendah sehingga nampak anggun dan menimbulkan kesan ramah bagi peziarah masjid. Jumlah pilar masjid bermakna rukun Iman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Lantai masjid terbuat dari marmer dengan ukuran besar, satu meter persegi. Lantai marmer yang sejuk membuat suasana menjadi sangat nyaman. Para jama’ah atau peziarah menjadikan masjid ini sebagai tempat peristirahatan sejenak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Ruang utama masjid berukuran 17 meter x 17 meter. Memiliki empat tiang utama yang menjadi soko guru, simbol empat madzhab Ahlu Sunnah Wal Jama’ah. Pada salahsatu sudut ruang utama masjid, terdapat tangga sederhana menuju lantai dua. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Atap masjid ditopang oleh empat tiang yang terbuat dari kayu hitam. Sumbangan dari salah satu Mayor berkebangsaan Cina. Melalui satu undakan atap, adalah ruang anjungan yang menjadi puncak masjid. Luas anjungan 4,3 meter x 4,3 meter. Pada setiap sisinya memiliki empat tingkap utama. Pada setiap tingkap utama terdapat tingkap – tingkap kecil berjumlah tujuh belas yang melambangkan jumlah sholat wajib sehari semalam. Melalui tingkap – tingkap kecil ini panorama kota Muntok terlihat dengan jelas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Letak Masjid Jami’ Muntok berdekatan sebuah kelenteng yang lebih tua 83 tahun dari usia masjid. Hal ini menjadi sebuah pelajaran penting dan sangat berharga terhadap perjalanan panjang masyarakat Muntok di masa lalu yang terbuka dan menerima perbedaan. Bagi kita, inilah makna dari sebuah toleransi yang diajarkan para pendahulu.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herimulyono.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herimulyono.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herimulyono.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herimulyono.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herimulyono.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herimulyono.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herimulyono.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herimulyono.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herimulyono.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herimulyono.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herimulyono.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herimulyono.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herimulyono.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herimulyono.wordpress.com/114/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herimulyono.wordpress.com&amp;blog=5684094&amp;post=114&amp;subd=herimulyono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herimulyono.wordpress.com/2008/12/21/masjid-jami-muntok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/48cb1e23162b3915543580515702c849?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Heri</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://herimulyono.files.wordpress.com/2008/12/masjid_jami_muntok.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">masjid_jami_muntok</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masjid Jami&#8217; Pangkalpinang</title>
		<link>http://herimulyono.wordpress.com/2008/12/19/masjid-jami-pangkalpinang/</link>
		<comments>http://herimulyono.wordpress.com/2008/12/19/masjid-jami-pangkalpinang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2008 12:42:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herimulyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herimulyono.wordpress.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Lokasi : Pusat Kota Pangkalpinang Kordinat GPS : 2°7&#8217;46.65&#8243;S, 106°6&#8217;42.64&#8243;E Masjid Jami’ Pangkalpinang salah satu masjid tua di Propinsi Bangka Belitung. Lokasi masjid di pusat Kota Pangkalpinang, berada diantara Jalan Kampung Dalam, di bagian timur, dan Jalan Kenangan, di bagian barat. Sisi selatan masjid merupakan kediaman ulama setempat, sisi utara masjid adalah Sungai Rangkui. Karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herimulyono.wordpress.com&amp;blog=5684094&amp;post=100&amp;subd=herimulyono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;"><img class="alignleft size-full wp-image-101" title="masjid_jami_pangkalpinang" src="http://herimulyono.files.wordpress.com/2008/12/masjid_jami_pangkalpinang.jpg" alt="masjid_jami_pangkalpinang" width="300" height="229" />Lokasi : </span></strong><span>Pusat Kota Pangkalpinang<br />
<strong>Kordinat GPS :</strong> <a title="Masjid Jami' Pangkalpinang" href="http://maps.google.com/maps?f=q&amp;hl=en&amp;q=-2.129625,+106.111844&amp;jsv=140g&amp;sll=-2.405299,105.614319&amp;sspn=1.234849,2.460938&amp;ie=UTF8&amp;geocode=FSeB3_8dZCNTBg" target="_blank">2°7&#8217;46.65&#8243;S, 106°6&#8217;42.64&#8243;E</a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Masjid Jami’ Pangkalpinang salah satu masjid tua di Propinsi Bangka Belitung. Lokasi masjid di pusat Kota Pangkalpinang, berada diantara Jalan Kampung Dalam, di bagian timur, dan Jalan Kenangan, di bagian barat. Sisi selatan masjid merupakan kediaman ulama setempat, sisi utara masjid adalah Sungai Rangkui. Karena letaknya yang sangat strategis, biasanya menjadi tempat singgah para musafir dan pekerja kantoran yang melaksanakan sholat dhuhur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Saat ini bangunan masjid terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama digunakan sebagai tempat sholat. Ruang utamanya mampu menampung 600 jema’ah. Lantai kedua digunakan untuk penyimpanan kitab-kitab, buku-buku ajaran Islam, tikar dan alat perlengkapan masjid lainnya. Lantai ketiga digunakan untuk mengumandangkan adzan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Pertama kali dibangun pada tanggal 3 Syawal 1355 Hijriah, atau pada tanggal 18 Desember 1936 Masehi. Data itu tertulis di atas meja yang terbuat dari batu marmar putih yang terletak di depan masjid. Bentuk awalnya tidak seperti sekarang ini. Keadaan masjid saat itu masih menggunakan dinding papan, berlantai semen dan beratap genteng. Letaknya juga sudah berubah, diperkirakan awalnya berada di antara tempat wudlu dan menara masjid yang sekarang.<span>  </span>Dahulu, di sekelilingnya adalah rawa-rawa, sungai dan pepohonan rumbia.<span id="more-100"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Rencana perombakan pertama Masjid Jami Pangkalpinang <span> </span>adalah hasil musyawarah para tokoh agama, tokoh masyarakat, pengusaha <span> </span>dan pejabat pemerintah pada hari Minggu 12 November 1950 menjelang maghrib. Dari hasil musyawarah ini terbentuklah paniti pembangunan masjid dengan ketua KH. Mas’ud Nur, yang saat itu sebagai penghulu Pangkalpinang. Selain itu, nama-nama dari kepanitiaan adalah<span>  </span>H. Abdullah Addary, H. M Ali Mustofa, H. Mochtar Jasin, H. Masdar, H Hasim, H. Idris. H Goni, Fattahullah dan yang lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Biaya yang dianggarkan untuk pembangunan Masjid Jamik sebesar Rp1,2 juta. Untuk menutupi kekurangan dana, kepanitian mengedarkan amplop yang bergambar Masjid Jamik dan diedarkan ke kampung-kampung. Namun, sebelum memberikan amplop, panitia memberikan ceramah agama dan mengutarakan maksud kepada masyarakat kampung, tujuan melakukan pengumpulan dana itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Kampung-kampung yang dituju untuk pengumpulan dana dibedakan menjadi Bangka Barat yang di dalamnya ada Kampung Kemuja, Petaling, Air Duren, sampai ke Muntok. Bangka Selatan yang di antaranya Koba, Nibung, Payung, Permis dan Bangka Utara seperti Baturusa, Sungailiat, hingga Belinyu. Bahkan Wakil Presiden Mohammad Hatta sempat menyumbang sebesar Rp. 1.000 untuk pembangunan masjid ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Sebelum melakukan pembangunan, dilakukan penimbunan kolong di dekat Sungai Rangkui yang dalamnya sekitar 10 meter dengan panjang sekitar 37 meter. Untuk menimbun kolong ini dilakukan dengan gotong royong dengan melibatkan unsur sipil dan militer.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Menurut catatan dari buku Risalah Pembangunan Mesjid Jami’ disebutkan PT Timah yang saat itu bernama perusahaan TTB, setiap minggu mengerahkan mobilnya untuk mengangkut pasir dan batu-batu. Bahkan ibu-ibu, di lokasi kolong Tambang 6 turut mencari batu-batu kerikil untuk menimbun rawa-rawa. Akhirnya, rawa-rawa sedalam 10 meter itu dapat ditimbun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Selesai penimbunan dilakukanlah pembangunan<span>  </span>masjid dengan panjang dan lebar 30 x 30 meter dengan tinggi menara sekitar 18 meter. Namun, karena kekurangan dana, pembangunan masjid terpaksa dihentikan sementara. Susunan kepanitiaan pun berubah sebab ada yang mengundurkan diri. Namun, ketua panitia masih dipegang oleh H. Mas’ud Nur. Anggaran dana semula Rp1,2 juta berubah menjadi Rp 1,5 juta. Jumlah ini bertambah karena harus disesuaikan dengan harga bahan dan upah pekerja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Membuat kubah dipercayakan kepada Firma Khu Khian Lan Pangkalpinang, pengerjaan pintu, kusen dan pengecatan oleh Biro Aksi. Sementara untuk menara yang awalnya 18 meter diubah menjadi 23 meter. Akhirnya pada tanggal 3 Juni 1961 sekitar pukul 09.00 WIB oleh Kepala Kantor Urusan Agama Kabupaten Bangka, Masjid Jamik Pangkalpinang diresmikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Ketua panitia, KH. Mas’ud Nur beberapa bulan setelah peresmian masjid, yang tepatnya tanggal 10 November 1961, pada hari Jumat menjelang Subuh yang saat itu bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan 10 November berpulang ke Rahmatullah dengan tenang pada usia 51 tahun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Masjid dengan arsitektur unik dengan empat tiang penyanggah yang terdapat di dalam masjid semakin menambah keindahan masjid. Dengan halaman yang cukup luas, pada musim haji, biasanya masjid ini digunakan pejabat untuk melepas para jamaah haji. Keindahan masjid ini semakin lengkap dengan ditempatkannya satu bedug terbesar yang ada di Pangkalpinang. Bedug ini merupakan sumbangan Mantan Kapolda Babel, Brigjen Polisi Erwin TPL Tobing yang saat masih berpangkat Komisaris Besar Polisi.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herimulyono.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herimulyono.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herimulyono.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herimulyono.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herimulyono.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herimulyono.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herimulyono.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herimulyono.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herimulyono.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herimulyono.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herimulyono.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herimulyono.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herimulyono.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herimulyono.wordpress.com/100/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herimulyono.wordpress.com&amp;blog=5684094&amp;post=100&amp;subd=herimulyono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herimulyono.wordpress.com/2008/12/19/masjid-jami-pangkalpinang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/48cb1e23162b3915543580515702c849?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Heri</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://herimulyono.files.wordpress.com/2008/12/masjid_jami_pangkalpinang.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">masjid_jami_pangkalpinang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masjid Kiai Muara Ogan</title>
		<link>http://herimulyono.wordpress.com/2008/12/17/masjid-kiai-muara-ogan/</link>
		<comments>http://herimulyono.wordpress.com/2008/12/17/masjid-kiai-muara-ogan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Dec 2008 18:48:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herimulyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herimulyono.wordpress.com/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[Lokasi: Muara Sungai Ogan, Kertapati, Palembang, Sumatera Selatan Koordinat GPS: 3° 0&#8217;54.08&#8243;S, 104°45&#8217;0.24&#8243;E Selain Masjid Agung Palembang, masjid bersejarah yang berada di kota Palembang adalah Masjid Kiai Muara Ogan (Masjid Merogan). Masjid Agung Palembang dan Masjid Kiai Muara Ogan ini berperan sama dalam penataan kehidupan masyarakat Palembang di masa Kesultanan Palembang Darussalam berjaya. Peran dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herimulyono.wordpress.com&amp;blog=5684094&amp;post=93&amp;subd=herimulyono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 12pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"><strong><img class="alignleft size-full wp-image-97" title="masjid_kiai_muara_ogan1" src="http://herimulyono.files.wordpress.com/2008/12/masjid_kiai_muara_ogan1.jpg" alt="masjid_kiai_muara_ogan1" width="300" height="196" />Lokasi:</strong> Muara Sungai Ogan, Kertapati, Palembang, Sumatera Selatan<br />
<strong>Koordinat GPS:</strong> <a title="Masjid Muara Ogan" href="http://maps.google.com/maps?f=q&amp;hl=id&amp;q=-3.015022,+104.750067&amp;jsv=139e&amp;sll=-2.565287,107.765236&amp;sspn=0.010161,0.019226&amp;g=-2.565722,+107.765242&amp;ie=UTF8&amp;geocode=FZL-0f8d81s-Bg" target="_blank">3° 0&#8217;54.08&#8243;S, 104°45&#8217;0.24&#8243;E</a></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 12pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Selain Masjid Agung Palembang, masjid bersejarah yang berada di kota Palembang adalah Masjid Kiai Muara Ogan (Masjid Merogan). Masjid Agung Palembang dan Masjid Kiai Muara Ogan ini berperan sama dalam penataan kehidupan masyarakat Palembang di masa Kesultanan Palembang Darussalam berjaya. Peran dan fungsi yang dibawa Masjid Agung Palembang memiliki pengaruh pada pranata struktur pemerintahan dan sistem ketatanegaraan Kesultanan Palembang, sedangkan Masjid Kiai Muara Ogan memiliki fungsi perbaikan kultural dan sosial rakyat Palembang.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 12pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Masjid Kiai Muara Ogan dibangun sekitar tahun 1871 oleh seorang ulama yang juga seorang saudagar kaya bernama Kiai Masagus Haji Abdul Hamid bin Mahmud. Beliau populer dengan nama Kiai Muara Ogan. Pada awal dibangunnya, luas Masjid Kiai Muara Ogan 20 meter x 25 meter persegi. <span id="more-93"></span></span></span><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Pada tahun 1950 Masjid Kiai Muara Ogan dilakukan renovasi. Bagian atap masjid, <em>mustaka</em> atau limas paling atas, diganti dengan kubah bulat berbahan seng. Serambi depan masjid diperluas dengan bahan cor beton. Setelah mengalami renovasi, luas bangunan masjid menjadi 50 meter x 40 meter persegi, hampir dua kali lipat luas awalnya. Biaya pembangunan renovasi masjid berasal dari Walikota Palembang, H. Abdul Kadir, dan masyarakat Palembang dan sekitarnya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 12pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Kemudian direnovasi kembali pada tahun 1989. Plafon ruangan utama ditinggikan. Kubah bulat diganti dengan Mustaka Limas seperti sedia kala. Lantai masjid diganti keramik, pintu dan jendela diganti baru. Namun tidak mengubah unsur aslinya. Renovasi ini menelan biaya Rp 325 juta yang ditanggung sendiri oleh seorang pengusaha kayu asal Palembang, Kemas Haji Abdul Halim bin Kemas Haji Ali. Masjid diresmikan pemakaiannya oleh Menteri Kehutanan Republik Indonesia pada waktu itu, Ir. H. Hasyrul Harahap.</span></span><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 12pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Arsitektur masjid menyerupai Masjid Agung Palembang. Keseluruhan ornamen masjid menandakan akulturasi budaya asli Melayu dengan budaya Timur lainnya. Sesuai dengan situasi sosial setempat yang mencirikan keterbukaan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 12pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Atap dan menara masjid menyerupai bangunan kelenteng. Atap yang berwarna hijau ini berbentuk limas segi lima berundak dua. Pucuk atap terdapat mahkota. Pada garis atap limas dibentuk melengkung runcing menghadap langit. Masjid memiliki dua atap, di atas bangunan utama dan di atas mihrab dengan ukuran yang lebih kecil. Diantara undakan atap terpasang jendela kaca bermotif bunga.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 12pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Struktur konstruksi masjid ditopang oleh empat tiang utama, yang disebut soko guru. Terbuat dari bahan kayu utuh pilihan. Tiang utama ini didukung 12 tiang medium yang memperkokoh kerangka atap dan langit-langit ruang utama masjid. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 12pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Interior ruang utama masjid dihiasi ornamen-ornamen klasik khas Melayu. Ukiran kayu bermotif alam terdapat pada jendela, pintu utama, mihrab dan mimbar. Dinding masjid dihiasi lampu berbingkai berwarna keemasan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 12pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Menurut kisah almarhum Masagus Haji Abdul Karim Dung (manatan Ketua Yayasan Masjid Kiai Muara Ogan), mulanya tanah wakaf peninggalan Kiai Muara Ogan dimana Masjid Muara Ogan berdiri sesungguhnya jauh lebih luas daripada lahan masjid sekarang. Batas tanah wakaf masjid di sebelah barat berbatasan dengan Sungai Musi, sebelah timur berbatasan dengan halaman belakang Pasar Kertapati, sebelah utara berbatasan dengan Sungai Ogan, dan sebelah selatan berbatasan dengan Sungai Gelam (Sungai Keramasan). Namun karena adanya sengketa, maka luas tanah wakaf masjid dan tanah milik keluarga Kiai Muara Ogan hanya tersisa 12.586 meter persegi. Keseluruhan tanah ini telah digunakan untuk membangun tiga unit sekolah dan pemakaman keluarga. Sampai kini tanah yang dipersengketakan itu dianggap Tanah Tak Bertuan, sehingga diklaim sebagai Tanah Negara. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 12pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Pada masa pendudukan Jepang, tepian Sungai Musi yang berada tidak jauh dari lokasi masjid dikeruk untuk keperluan pengambilan bahan batubara oleh pihak TABA Keretaapi. Akibat pengerukan, tanah yang berada di pinggiran sungai yang berbatasan dengan masjid, sejak tahun 1943 sampai 1980, mengalami longsor. Baik oleh arus sungai maupun curah hujan yang tinggi. Sehingga hanya menyisakan jarak dua meter lagi dari tepi sungai dengan mihrab masjid.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 12pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Pada tahun 1969 dibentuk Yayasan Masjid Kiai Muara Ogan yang diketuai oleh Masagus Haji Abdul Karim Dung, dengan maksud memperoleh perhatian pemerintah untuk mengatasi longsor di lahan masjid. Lalu pemerintah memberikan kucuran Rp 10 juta pada tahun 1980, untuk membangun tanggul penahan sepanjang tepian Sungai Musi yang berbatasan dengan lahan masjid. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 12pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Sosok sang pendiri Masjid adalah seorang ulama besar yang berpengaruh di Palembang. Masagus Haji Abdul Hamid bin Mahmud dilahirkan pada tahun 1811. Beliau menimba ilmu keagamaan di tanah suci Mekkah dalam waktu yang cukup lama, sebelum melakukan perjalanan syiar Islam di Palembang.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 12pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Kiai Muara Ogan gigih berda’wah menyiarkan Islam ke seluruh pesolok Palembang. Gemblengan dan didikan para ulama Mekkah terhadap dirinya telah melahirkan sosok yang tegar dan berani. Berkelana dari kampung ke kampung menyusuri Sungai Musi mendayungi perahunya sendiri. Terkadang murid beliau disertakan dalam perjalanan menuju Belindo, Tanjung Raya, Inderalaya, dan daerah lainnya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 12pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Pola pengajaran beliau terpusat di masjid. Fungsi masjid dioptimalkan sebagai pusat kegiatan dan menerapkan pendidikan ala pesantren. Beliau tidak membangun pesantren karena lebih menyukai cara ini. Perhatian beliau terhadap masjid sangat besar. Setiap daerah yang beliau kunjungi selalu dibangun sebuah surau. Jika menemui masjid dalam kondisi rusak, tidak segan beliau keluarkan sebagian hartanya untuk memulihkannya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 12pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Pada mulanya masjid yang dikenal sebagai Masjid Kiai Muara Ogan ini bernama Masjid Jami’ Kiai Haji Abdul Hamid bin Mahmud. Namun lebih dikenal dengan sebutan Masjid Kiai Muara Ogan, karena letaknya berada di tepian pertemuan Sungai Ogan dan Sungai Musi. Beliau sendiri dikenal dengan sebutan Kiai Muara Ogan. Nama Muara Ogan sendiri pada akhirnya berubah menjadi Merogan. Sehingga Kiai Masagus sering pula disebut dengan Kiai Merogan. Nama masjidnya pun mengikuti nama panggilan beliau yang populer, Masjid Merogan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 12pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Masjid ini digunakan Kiai Merogan sebagai tempat ibadah, mengaji dan mendalami agama Islam bagi keluarga beliau dan masyarakat yang tinggal di kampung Karang Berahi Kertapati pada awalnya. Seiring bertambahnya murid beliau yang datang dari berbagai kampung, fungsi masjid ditingkatkan untuk tempat sholat jum’at. Masjid yang semula milik pribadi beliau, diwakafkan untuk ummat yang diresmikan pada tanggal 6 Syawal 1310 H (23 April 1893 M). Maka masjid ini berubah menjadi masjid jami’. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 12pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Salah satu murid Kiai Merogan yang menjadi kawan karib beliau adalah Kiai Kemas Haji Abdurahman Delamat. Kiai Kemas yang dikenal sebagai Kiai Delamat membangun perguruan sendiri dan mendirikan Masjid Al-Mahmudiyah Suro yang berada di daerah 32 Ilir Palembang. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 12pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Menjelang wafat, beliau berpesan kepada murid-muridnya, setelah wafat nanti dirinya dimakamkan di dekat masjid yang beliau bangun. Permintaannya terpenuhi, pada tanggal 31 Oktober 1901, beliau dimakamkan di halaman samping masjid oleh murid-muridnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 12pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Untuk mengenang ketokohan beliau, sebuah jalan raya yang berada di simpat empat Jembatan Musi II Kemang Agung hingga simpang empat Jembatan Kertapati 1 Ulu Palembang, di beri nama Jalan Kiai Merogan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 12pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Masjid Kiai Muara Ogan hingga kini banyak dikunjungi oleh peziarah. Setidaknya hampir seratus orang setiap hari berziarah ke masjid untuk menikmati nuansa spiritual bangunan peninggalan Kiai Muara Ogan, mengunjungi makam sang pendirinya.</span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herimulyono.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herimulyono.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herimulyono.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herimulyono.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herimulyono.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herimulyono.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herimulyono.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herimulyono.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herimulyono.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herimulyono.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herimulyono.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herimulyono.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herimulyono.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herimulyono.wordpress.com/93/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herimulyono.wordpress.com&amp;blog=5684094&amp;post=93&amp;subd=herimulyono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herimulyono.wordpress.com/2008/12/17/masjid-kiai-muara-ogan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/48cb1e23162b3915543580515702c849?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Heri</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://herimulyono.files.wordpress.com/2008/12/masjid_kiai_muara_ogan1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">masjid_kiai_muara_ogan1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masjid Al-Ikhlas</title>
		<link>http://herimulyono.wordpress.com/2008/12/15/masjid-al-ikhlas/</link>
		<comments>http://herimulyono.wordpress.com/2008/12/15/masjid-al-ikhlas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 15:55:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herimulyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herimulyono.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Lokasi: Jl. Penghulu Desa Sijuk, Kecamatan Sijuk, Belitung Kordinat GPS : 2°33&#8217;56.60&#8243;S, 107°45&#8217;54.87&#8243;E Masjid Al-Ikhlas merupakan saksi sejarah perjuangan masyarakat Belitung melawan kolonial Belanda. Pada saat itu, masjid tua ini menjadi pusat komando perjuangan rakyat Belitung. Dalam kesederhanaan arsitekturnya, terekaman sejarah perjuangan rakyat yang tak kenal lelah dalam menghadapi penjajah. Pertama kali dibangun pada tahun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herimulyono.wordpress.com&amp;blog=5684094&amp;post=86&amp;subd=herimulyono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-88" title="masjid-al-ikhlas1" src="http://herimulyono.files.wordpress.com/2008/12/masjid-al-ikhlas1.jpg" alt="masjid-al-ikhlas1" width="300" height="201" />Lokasi:</strong> Jl. Penghulu Desa Sijuk, Kecamatan Sijuk, Belitung<br />
<strong>Kordinat GPS :</strong> <a title="Masjid Al-Ikhlas" href="http://maps.google.com/maps?f=q&amp;hl=id&amp;q=-2.565722,+107.765242&amp;jsv=139e&amp;sll=37.0625,-95.677068&amp;sspn=33.02306,78.75&amp;ie=UTF8&amp;geocode=FabZ2P8d-l1sBg" target="_blank">2°33&#8217;56.60&#8243;S, 107°45&#8217;54.87&#8243;E</a></p>
<p>Masjid Al-Ikhlas merupakan saksi sejarah perjuangan masyarakat Belitung melawan kolonial Belanda. Pada saat itu, masjid tua ini menjadi pusat komando perjuangan rakyat Belitung. Dalam kesederhanaan arsitekturnya, terekaman sejarah perjuangan rakyat yang tak kenal lelah dalam menghadapi penjajah.</p>
<p>Pertama kali dibangun pada tahun 1817 di desa Sijuk, Pulau Belitung di ujung sebelah utara. Dinding masjid berwarna coklat dan memiliki atap berundak dua. Di samping masjid terdapat ruang aula pertemuan dalam bentuk menyerupai masjid. Sehingga Masjid Al-Ikhlas seakan memiliki dua masjid kembar.</p>
<p>Arsitektur masjid mencirikan bangunan khas daerah Belitung. Bentuk masjid bujursangkar, memiliki ukuran 8 meter x 8 meter. Masih asli dan tetap dipertahankan hingga sekarang. Bagian mihrab agak menjorok dari bangunan utama dan diberi atap dengan bentuk yang sama dengan bangunan utamanya. Bagian atas mihrab tertera tanggal perbaikan masjid dengan huruf arab Melayu, bertuliskan “diperbaiki 1 rajab 1370 H”. Seluruh bagian masjid terbuat dari material kayu. Hanya lantainya yang sudah berganti keramik.<span id="more-86"></span>Tak jauh dari Masjid Al-Ikhlas, sekitar 200 m sebelah barat terdapat Klenteng. Menurut penjaga masjid dan klenteng, mereka sepakat bahwa dua tempat ibadah ini dibangun oleh orang Tionghoa pada tahun yang sama. Pertama, pembangunan masjid kemudian dilanjutkan dengan pembangunan klenteng.<br />
Dari informasi tersebut sesuai dengan penelitian G.W Skinner dalam bukunya “The Colloquium on Overseas” yang menyebutkan bahwa sebelum abad 19 emigran Tionghoa yang menyebar ke wilayah nusantara kebanyakan adalah laki-laki. Di tempat-tempat baru yang mereka datangi , emigran Tionghoa ini lalu kawin dengan wanita setempat atau wanita Tionghoa peranakan. Maksudnya adalah wanita Tionghoa yang dilahirkan dari perkawinan antara laki-laki Tionghoa dan dan wanita pribumi.</p>
<p>Kedekatan dua tempat ibadah tersebut di atas dapat menggambarkan bahwa sejak dulu hingga sekarang kerukunan beragama warga disini sangat terjaga dengan baik. Demikian juga keakraban antara penduduk pribumi dan Tionghoa atau peranankannya.</p>
<p>Catatan perjalanan sejarah Belitung tidak terlepas dan saling terkait dengan sejarah Bangka. Pada kisaran tahun 1709, timah ditemukan di pulau Bangka oleh orang-orang Johor. Sejak tahun 1710, sumber-sumber timah di pulau Bangka dan Belitung dikelola Kesultanan Palembang. Untuk pengelolaannya, Sultan sampai harus mendatangkan tenaga ahli pertambangan dari negeri Cina.</p>
<p>Pada tahun 1717, Sultan Palembang meminta bantuan VOC untuk menumpas bajak laut di perairan Bangka-Belitung serta mencegah penyelundupan timah. Permintaan dikabulkan. Lima tahun kemudian, VOC mengajukan kerjasama yang merugikan Kesultanan Palembang, menjual timah kepada VOC dan boleh membeli timah sesuai dengan jumlah yang mereka perlukan.</p>
<p>Dampak perjanjian ini tidak hanya merugikan Kesultanan saja, pasar timah di Palembang pun hampir merosot tajam. Alhasil, penyelundupan timah marak kembali. Timah dijual di luar kawasan Palembang. Hal ini sangat merugikan VOC. Maka pada tahun 1803, utusan VOC, V.D. Bogarts dan Kapten Lombart bertolak ke Bangka-Belitung untuk menunjukkan ketegasan bahwa pihak kolonial adalah penguasa tunggal timah di tanah ini.<br />
Monopoli Belanda atas timah harus dihentikan. Berdasarkan Perjanjian Tuntang pada tanggal 18 September 1811 menyatakan bahwa Belanda harus menyerahkan daerah-daerah taklukannya kepada pihak Inggris, meliputi Jawa, Timor, Makassar, Palembang, dan daerah taklukan lainnya.</p>
<p>Tindak lanjut Perjanjian Tuntang, Gubernur Jenderal Inggris, Sir Thomas Stamford Raffles, mengirimkan utusan ke Palembang untuk mengambil alih Loji Belanda di Sungai Aur dan tambang timah di pulau Bangka dan Belitung. Namun, upaya Inggris mengambil alih Palembang dan Bangka-Belitung ditentang oleh Sultan Palembang, Sultan Mahmud Badarudin II.</p>
<p>Raffles mengirim kembali utusan, Mayor Jendral Roobert Rollo Gillespie ke Palembang pada tanggal 20 Maret 1812. Kedatangannya ditolak oleh Sultan Palembang. Dua kali gagal, Inggris mulai melaksanakan politik devide et impera. Mereka mengangkat Pangeran Adipati sebagai Sultan Palembang pada tahun 1812 yang bergelar Sultan Ahmad Najamuddin II. Sebagai imbalannya, Sultan Najamuddin menyerahkan Bangka-Belitung kepada Inggris. Pada tanggal 20 Mei 1812, Bangka-Belitung resmi menjadi jajahan Inggris dengan nama Duke of Island.</p>
<p>Kekuasaan Inggris di Bangka-Belitung hanya dua tahun. Tepat pada tanggal 13 Agustus 1814, Belanda dan Inggris menandatangani Perjanjian London, yang isinya mengembalikan wilayah jajahan Inggris di nusantara kepada Belanda, termasuk di dalamnya Bangka-Belitung.</p>
<p>Selama berada dalam genggaman Belanda dan Inggris, kondisi Bangka-Belitung sangat memprihatinkan. Sumber-sumber timah digali besar-besaran tanpa memperdulikan kaum pribumi dan lingkungan sekitarnya. Penipuan, pemerasan dan eksploitasi tiada batas menimbulkan kebencian penduduk asli Bangka-Belitung. Puncaknya adalah sikap perlawanan. Dibawah pimpinan Depati Merawang, Depati Amir, Depati Bahrin dan Tikal, masyarakat Bangka-Belitung melawan pendudukan kolonial dan mengusirnya. Namun, perlawanan yang dilakukan selama bertahun – tahun tidak mampu mengalahkan Belanda dari tanah Bangka-Belitung. Belanda tetap bercokol dan berkuasa di Bangka-Belitung.</p>
<p>Perebutan lahan tambang timah berlanjut terus hingga masa kemerdekaan. Tidak sedikit upaya masyarakat Bangka-Belitung melepaskan diri dari berbagai cengkeraman berbagai kekuasaan yang datang silih berganti. Kekayaan alam yang dimiliki hanya memberi manfaat sangat kecil kepada masyarakat setempat. Eksploitasi luar biasa pada masa lalu meninggalkan dekadensi alam yang nilainya tak terhingga.</p>
<p>Kini, ketenteraman dan kedamaian telah hadir di tanah Belitung. Peristiwa di masa lalu adalah pelajaran berharga. Jejak perjalanan sejarah Belitung dapat kita telusuri melalui kunjungan situs-situs bersejarah, salah satunya Masjid Al-Ikhlas.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herimulyono.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herimulyono.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herimulyono.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herimulyono.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herimulyono.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herimulyono.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herimulyono.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herimulyono.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herimulyono.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herimulyono.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herimulyono.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herimulyono.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herimulyono.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herimulyono.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herimulyono.wordpress.com&amp;blog=5684094&amp;post=86&amp;subd=herimulyono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herimulyono.wordpress.com/2008/12/15/masjid-al-ikhlas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/48cb1e23162b3915543580515702c849?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Heri</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://herimulyono.files.wordpress.com/2008/12/masjid-al-ikhlas1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">masjid-al-ikhlas1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Makam Kawah Tekurep</title>
		<link>http://herimulyono.wordpress.com/2008/12/13/makam-kawah-tekurep/</link>
		<comments>http://herimulyono.wordpress.com/2008/12/13/makam-kawah-tekurep/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Dec 2008 04:39:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herimulyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Makam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herimulyono.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Lokasi : Kelurahan 3 Ilir Lemahabang, Palembang, Sumatera Selatan Kordinat GPS : 2°58&#8217;45.00&#8243;S, 104°46&#8217;59.60&#8243;E Makam Kawah Tekurep adalah komplek pemakaman para sultan dan keluarga Kesultanan Palembang Darussalam beserta para guru agama pada masanya. Pertamakali dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo pada tahun 1728. Kemudian dilanjutkan pembangunan Gubah Tengah di areal pemakaman oleh Sultan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herimulyono.wordpress.com&amp;blog=5684094&amp;post=23&amp;subd=herimulyono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;"><a href="http://herimulyono.files.wordpress.com/2008/11/kawah_tekurep.jpg"></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;"><strong><img class="alignleft size-full wp-image-51" title="makam_kawah_tekurep1" src="http://herimulyono.files.wordpress.com/2008/12/makam_kawah_tekurep1.jpg" alt="makam_kawah_tekurep1" width="300" height="206" />Lokasi : </strong></span><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Kelurahan 3 Ilir Lemahabang, Palembang, Sumatera Selatan<br />
<strong>Kordinat GPS :</strong><span> </span><a href="http://maps.google.com/maps?f=q&amp;hl=en&amp;q=-2.979167,+104.783222&amp;jsv=139e&amp;sll=37.0625,-95.677068&amp;sspn=35.357014,79.013672&amp;ie=UTF8&amp;geocode=FaGK0v8ddt0-Bg" target="_blank">2°58&#8217;45.00&#8243;S, 104°46&#8217;59.60&#8243;E</a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Makam Kawah Tekurep adalah komplek pemakaman para sultan dan keluarga Kesultanan Palembang Darussalam beserta para guru agama pada masanya. Pertamakali dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo pada tahun 1728. Kemudian dilanjutkan pembangunan Gubah Tengah di areal pemakaman oleh Sultan Ahmad Najamuddin I Adi Kesumo.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Tiap tahun menjelang bulan suci ramadhan, di pemakaman ini selalu diadakan haul dan ziarah kubra ulama dan auliyah Palembang Darussalam yang dihadiri tidak hanya oleh masyarakat Palembang tapi juga dari penjuru tanah air, bahkan dari manca negara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Keluarga Kesultanan Palembang dan Guru Agama yang dimakamkan di pemakaman tersebut antara lain adalah :<span id="more-23"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;"><strong>Bangunan Makam Sultan Mahmud Badaruddin I:</strong><br />
- Sultan Mahmud Badaruddin I<br />
- Ratu Sepuh, istri ke 1 dari Jawa Tengah<br />
- Ratu Gading, istri ke 2 dari Kelantan<br />
- Mas Ayu Ratu (Liem Ban Nio), istri ke 3 dari Cina<br />
- Nyai Mas Maimah, istri ke 4 dari Palembang<br />
- Imam Syayid Idrus Al Idrus dari Yaman Selatan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span><strong>Bangunan Makam Pangeran Ratu Kamuk:</strong><br />
- Pangeran Ratu Kamuk<br />
- Ratu Mudo, istri<br />
- Imam Sayid Yusuf Al Angkawi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;"><strong>Bangunan Makam Sultan Ahmad Najamuddin</strong><br />
- Sultan Ahmad Najamuddin<br />
- Mas Ayu Dalem, istri<br />
- Imam Sayid Abdur Rahman Maulana Togaah, dari Yaman Selatan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;"><strong>Bangunan Makam Sultan Muhammad Bahudin</strong><br />
- Sultan Muhammad Bahaudin<br />
- Ratu Agung, istri<br />
- Datuk Murni Hadat, dari Saudi Arabia</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;"><strong>Makam di Luar Pagar Bangunan</strong><br />
- Sultan Hussin Dlia&#8217; Uddin (Husin Dhiauddin), pindahan dari makam Krukut, Jakarta</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herimulyono.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herimulyono.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herimulyono.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herimulyono.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herimulyono.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herimulyono.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herimulyono.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herimulyono.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herimulyono.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herimulyono.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herimulyono.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herimulyono.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herimulyono.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herimulyono.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herimulyono.wordpress.com&amp;blog=5684094&amp;post=23&amp;subd=herimulyono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herimulyono.wordpress.com/2008/12/13/makam-kawah-tekurep/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/48cb1e23162b3915543580515702c849?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Heri</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://herimulyono.files.wordpress.com/2008/12/makam_kawah_tekurep1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">makam_kawah_tekurep1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masjid Agung Palembang</title>
		<link>http://herimulyono.wordpress.com/2008/12/13/masjid-agung-palembang/</link>
		<comments>http://herimulyono.wordpress.com/2008/12/13/masjid-agung-palembang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Dec 2008 04:32:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herimulyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herimulyono.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Lokasi : Jl. Jenderal Sudirman No. 1, Palembang, Sumatera Selatan Kordinat GPS : 2°59&#8217;16.42&#8243;S, 104°45&#8217;36.15&#8243;E Masjid Agung Palembang bagian dari peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam, dan menjadi salah satu masjid tertua di Kota Palembang. Masjid ini berada di utara Istana Kesultanan Palembang, di belakang Benteng Kuto Besak yang berdekatan dengan aliran sungai Musi. Secara administratif, masjid [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herimulyono.wordpress.com&amp;blog=5684094&amp;post=21&amp;subd=herimulyono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;"><img class="alignleft size-full wp-image-34" title="masjid_agung_palembang1" src="http://herimulyono.files.wordpress.com/2008/12/masjid_agung_palembang1.jpg" alt="masjid_agung_palembang1" width="300" height="193" />Lokasi : </span></strong><span>Jl. Jenderal Sudirman No. 1, Palembang, Sumatera Selatan<br />
<strong>Kordinat GPS :</strong> <a href="http://maps.google.com/maps?f=q&amp;hl=en&amp;q=-2.987894,+104.760042&amp;jsv=139e&amp;sll=-2.979106,104.78322&amp;sspn=0.010886,0.01929&amp;g=-2.979167,+104.783222&amp;ie=UTF8&amp;geocode=FYpo0v8d6oI-Bg" target="_blank">2°59&#8217;16.42&#8243;S, 104°45&#8217;36.15&#8243;E</a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Masjid Agung Palembang bagian dari peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam, dan menjadi salah satu masjid tertua di Kota Palembang. Masjid ini berada di utara Istana Kesultanan Palembang, di belakang Benteng Kuto Besak yang berdekatan dengan aliran sungai Musi. Secara administratif, masjid ini berada di Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I, tepat di pertemuan Jalan Merdeka dan Jalan Sudirman, pusat Kota Palembang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Masjid Agung Palembang mulai dibangun pada tahun 1738 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo. Pembangunan berlangsung selama 10 tahun dan resmi digunakan sebagai tempat peribadatan umat muslim Palembang pada tanggal 28 Jumadil Awal 1161 H atau 26 Mei 1748 M. <span id="more-21"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Awalnya masjid ini bernama Masjid Sultan, dan belum memiliki menara. Bentuk masjid hampir bujursangkar, memiliki ukuran 30 meter x 36 meter. Dengan luas mencapai 1080 meter persegi, konon, Masjid Sultan merupakan masjid terbesar di nusantara yang mampu menampung 1200 jema’ah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Masjid Sultan dirancang oleh seorang arsitek dari Eropa. Konsep bangunan masjid memadukan keunikan arsitektur Nusantara, Eropa dan Cina. Gaya khas arsitektur Nusantara adalah pola struktur bangunan utama berundak tiga dengan puncaknya berbentuk limas. Undakan ketiga yang menjadi puncak masjid atau mustaka memiliki jenjang berukiran bunga tropis. Pada bagian ujung mustaka terdapat mustika berpola bunga merekah. Bentuk undakan bangunan masjid dipengaruhi bangunan dasar candi Hindu-Jawa, yang kemudian diserap Masjid Agung Demak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Atap masjid berbentuk limas, terdiri dari tiga tingkat. Pada bagian atas sisi limas atap terdapat jurai daun simbar menyerupai tanduk kambing yang melengkung. Setiap sisi limas memiliki 13 jurai. Bentuk jurai melengkung dan lancip. Rupa ini merupakan bentuk atap kelenteng Cina. Ciri khas arsitektur Eropa terdapat pada rupa jendela masjid yang besar dan tinggi. Pilar masjid berukuran besar dan memberi kesan kokoh. Material bangunan seperti marmer dan kaca diimpor langsung dari Eropa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Najamudin (masa pemerintahan 1758–1774) menara masjid dibangun. Lokasi menara masjid terpisah dari bangunan utama, dan berada di bagian barat. Pola menara masjid berbentuk segi enam setinggi 20 meter. Rupa menara masjid menyerupai menara kelenteng. Bentuk atap menara melengkung pada bagian ujungnya, dan beratap genteng. Menara masjid memiliki teras berpagar yang mengelilingi bangunan menara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Pada tahun 1819 dan 1821 dilakukan pemugaran masjid akibat peperangan besar yang berlangsung selama lima hari berturut-turut. Perbaikan masjid dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda. Atap genteng menara masjid diganti atap sirap. Tinggi menara ditambahkan dengan adanya beranda melingkar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Usia satu abad Masjid Sultan, yakni pada tahun 1848, dilakukan perluasan bangunan oleh pemerintah Hindia Belanda. Gaya tradisional Gerbang Utama masjid diubah menjadi Doric style. Pada tahun 1879, serambi Gerbang Utama masjid diperluas dengan tambahan tiang beton bulat. Rupa serambi Gerbang Utama menyerupai pendopo, namun bergaya kolonial. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Perluasan pertama Masjid Sultan dilaksanakan pada tahun 1897 oleh Pangeran Nata Agama Karta Manggala Mustofa Ibnu Raden Kamaluddin. Lahan yang dijadikan areal kawasan masjid merupakan wakaf dari Sayyid Umar bin Muhammad Assegaf Althoha dan Sayyid Achmad bin Syech Shahab. Kemudian nama Masjid Sultan diubah menjadi Masjid Agung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Perbaikan dan perluasan masjid dilakukan kembali pada tahun 1893. Pada tahun 1916 bangunan menara masjid disempurnakan. Kemudian pada tahun 1930, dilakukan perubahan struktur pilar masjid. Yakni menambah jarak pilar dengan atap menjadi 4 meter.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Pada kurun tahun 1966-1969 dibangun lantai kedua. Luas mesjid menjadi 5.520 meter persegi dengan daya tampung 7.750 jema’ah. Pada tanggal 22 Januari 1970 dimulai pembangunan menara baru yang disponsori oleh Pertamina. Menara baru ini setinggi 45 meter, mendampingi menara asli bergaya Cina. Renovasi Masjid Agung diresmikan pada tanggal 1 Februari 1971.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Sejak tahun 2000, Masjid Agung dilakukan renovasi kembali, dan selesai pada tanggal 16 Juni 2003 bertepatan dengan peresmiaannya oleh Presiden RI Hj. Megawati Soekarno Putri. Masjid Agung Palembang yang megah dan berdiri kokoh kini mampu menampung 9000 jama’ah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Arsitektur Masjid Agung dan masjid tua lainnya di Palembang secara simbolik memiliki nilai filosofis yang tinggi. Undakan pelataran masjid dan tingkatan atap yang berjumlah tiga memberi makna perjalanan manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hamka (1961) menafsirkan atap tumpang sebagai berikut: Tingkat pertama melambangkan <strong>Syariah</strong> serta amal perbuatan manusia. Tingkat kedua melambangkan <strong>Thariqat</strong> yaitu jalan untuk mencapai ridlo Allah SWT. Atap tingkat ke tiga melambangkan <strong>Hakikat</strong>, yaitu ruh atau hakekat amal perbuatan seseorang. Sedangkan Puncak (Mustoko) melambangkan <strong>Ma’rifat</strong>, yaitu tingkat mengenal Tuhan Yang Maha Tinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Dalam sejarahnya, masjid yang berada di pusat Kesultanan Palembang Darussalam menjadi pusat kajian Islam yang telah melahirkan sejumlah ulama besar. Syekh Abdus Shamad al-Palembani, Kemas Fachruddin, dan Syihabuddin bin Abdullah, adalah beberapa ulama yang pernah menjadi Imam Besar Masjid Agung. Peran para ulama ini sangat besar dalam mengembangkan agama Islam di wilayah Kesultanan Palembang. Konsep pengajaran Islam diturunkan kedalam lingkup amal (praktik) dan ilmu (wacana), sehingga mudah diterima dan diamalkan oleh masyarakat muslim Palembang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Masjid Agung Palembang menyimpan kenangan tak terlupakan sepanjang masa. Ia menjadi saksi atas sejarah perjuangan rakyat Palembang pada pertempuran selama lima hari melawan Belanda di pusat kota. Pertempuran bermula pada tanggal 1 Januari 1947. Pejuang Republik awalnya menyerang RS Charitas. Keesokan harinya tentara Belanda membalas serangan dengan kekuatan penuh menuju pusat komando pejuang Republik yang berada di Masjid Agung Palembang. Batalyon Geni merapatkan barisan bersama berbagai tokoh masyarakat demi mempertahankan masjid dari kehancuran. Pejuang Republik berhasil bertahan, tentara Belanda mundur akibat kekurangan pasokan. Pada saat yang bersamaan bantuan pasukan Belanda yang datang dari Talangbetutu berhasil dihadang oleh pasukan Republik dibawah pimpinan Letnan Satu Wahid Luddien.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Belanda melancarkan kembali serangan pada hari ketiga. Kekuatan mereka lebih besar, mendapat dukungan serangan udara dari pesawat – pesawat Mustang untuk meluluhlantakkan kota Palembang. Namun upaya mereka gagal, kememangan kembali diraih setelah pasukan Ki.III/34 berhasil menenggelamkan satu kapal Belanda yang penuh dengan mesiu, meskipun harus menelan korban banyak akibat bombardir serangan udara pesawat Mustang Belanda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Pada hari keempat, bantuan pasukan Republik yang akan bergabung di Masjid Agung Palembang dihadang pasukan Belanda di wilayah sekitar Simpang Empat BPM, Sekanak dan Kantor Karesidenan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;">Pertempuran berlanjut hingga hari kelima. Kekuatan Belanda langsung menuju jantung pertahanan pasukan Republik, Masjid Agung Palembang. Pertempuran sengit terjadi, pasukan Mobrig pimpinan Inspektur Wagiman dengan bantuan Batalyon Geni mampu mempertahankan garis pertahanan sehingga pasukan Belanda gagal merangsek. Setelah melewati lima hari pertempuran yang melelahkan, pihak Belanda menyatakan mundur. Disepakati perjanjian <em>Cease Fire</em> oleh kedua belak pihak. Perjanjian ini menandakan berakhirnya pendudukan Belanda dari wilayah kota Palembang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;line-height:150%;font-family:&quot;"><span style="color:black;">Masjid yang menjadi kebanggaan kota Palembang ini menjadi perlambang sebuah semangat perjuangan rakyat dalam mempertahanan hak hidup, hak menentukan nasib sendiri dan hak merdeka sebagai manusia seutuhnya. Seiring gema adzan yang mengalun di antara menara-menara besarnya, masjid ini tetap kokoh menjaga umat muslim dari sebuah ketertindasan.</span> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herimulyono.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herimulyono.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herimulyono.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herimulyono.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herimulyono.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herimulyono.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herimulyono.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herimulyono.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herimulyono.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herimulyono.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herimulyono.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herimulyono.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herimulyono.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herimulyono.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herimulyono.wordpress.com&amp;blog=5684094&amp;post=21&amp;subd=herimulyono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herimulyono.wordpress.com/2008/12/13/masjid-agung-palembang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/48cb1e23162b3915543580515702c849?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Heri</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://herimulyono.files.wordpress.com/2008/12/masjid_agung_palembang1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">masjid_agung_palembang1</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
