Persada Nusantara

Catatan Perjalanan Heri Mulyono

Masjid Kiai Muara Ogan


masjid_kiai_muara_ogan1Lokasi: Muara Sungai Ogan, Kertapati, Palembang, Sumatera Selatan
Koordinat GPS: 3° 0’54.08″S, 104°45’0.24″E

Selain Masjid Agung Palembang, masjid bersejarah yang berada di kota Palembang adalah Masjid Kiai Muara Ogan (Masjid Merogan). Masjid Agung Palembang dan Masjid Kiai Muara Ogan ini berperan sama dalam penataan kehidupan masyarakat Palembang di masa Kesultanan Palembang Darussalam berjaya. Peran dan fungsi yang dibawa Masjid Agung Palembang memiliki pengaruh pada pranata struktur pemerintahan dan sistem ketatanegaraan Kesultanan Palembang, sedangkan Masjid Kiai Muara Ogan memiliki fungsi perbaikan kultural dan sosial rakyat Palembang.

Masjid Kiai Muara Ogan dibangun sekitar tahun 1871 oleh seorang ulama yang juga seorang saudagar kaya bernama Kiai Masagus Haji Abdul Hamid bin Mahmud. Beliau populer dengan nama Kiai Muara Ogan. Pada awal dibangunnya, luas Masjid Kiai Muara Ogan 20 meter x 25 meter persegi. Pada tahun 1950 Masjid Kiai Muara Ogan dilakukan renovasi. Bagian atap masjid, mustaka atau limas paling atas, diganti dengan kubah bulat berbahan seng. Serambi depan masjid diperluas dengan bahan cor beton. Setelah mengalami renovasi, luas bangunan masjid menjadi 50 meter x 40 meter persegi, hampir dua kali lipat luas awalnya. Biaya pembangunan renovasi masjid berasal dari Walikota Palembang, H. Abdul Kadir, dan masyarakat Palembang dan sekitarnya.

Kemudian direnovasi kembali pada tahun 1989. Plafon ruangan utama ditinggikan. Kubah bulat diganti dengan Mustaka Limas seperti sedia kala. Lantai masjid diganti keramik, pintu dan jendela diganti baru. Namun tidak mengubah unsur aslinya. Renovasi ini menelan biaya Rp 325 juta yang ditanggung sendiri oleh seorang pengusaha kayu asal Palembang, Kemas Haji Abdul Halim bin Kemas Haji Ali. Masjid diresmikan pemakaiannya oleh Menteri Kehutanan Republik Indonesia pada waktu itu, Ir. H. Hasyrul Harahap.

Arsitektur masjid menyerupai Masjid Agung Palembang. Keseluruhan ornamen masjid menandakan akulturasi budaya asli Melayu dengan budaya Timur lainnya. Sesuai dengan situasi sosial setempat yang mencirikan keterbukaan.

Atap dan menara masjid menyerupai bangunan kelenteng. Atap yang berwarna hijau ini berbentuk limas segi lima berundak dua. Pucuk atap terdapat mahkota. Pada garis atap limas dibentuk melengkung runcing menghadap langit. Masjid memiliki dua atap, di atas bangunan utama dan di atas mihrab dengan ukuran yang lebih kecil. Diantara undakan atap terpasang jendela kaca bermotif bunga.

Struktur konstruksi masjid ditopang oleh empat tiang utama, yang disebut soko guru. Terbuat dari bahan kayu utuh pilihan. Tiang utama ini didukung 12 tiang medium yang memperkokoh kerangka atap dan langit-langit ruang utama masjid.

Interior ruang utama masjid dihiasi ornamen-ornamen klasik khas Melayu. Ukiran kayu bermotif alam terdapat pada jendela, pintu utama, mihrab dan mimbar. Dinding masjid dihiasi lampu berbingkai berwarna keemasan.

Menurut kisah almarhum Masagus Haji Abdul Karim Dung (manatan Ketua Yayasan Masjid Kiai Muara Ogan), mulanya tanah wakaf peninggalan Kiai Muara Ogan dimana Masjid Muara Ogan berdiri sesungguhnya jauh lebih luas daripada lahan masjid sekarang. Batas tanah wakaf masjid di sebelah barat berbatasan dengan Sungai Musi, sebelah timur berbatasan dengan halaman belakang Pasar Kertapati, sebelah utara berbatasan dengan Sungai Ogan, dan sebelah selatan berbatasan dengan Sungai Gelam (Sungai Keramasan). Namun karena adanya sengketa, maka luas tanah wakaf masjid dan tanah milik keluarga Kiai Muara Ogan hanya tersisa 12.586 meter persegi. Keseluruhan tanah ini telah digunakan untuk membangun tiga unit sekolah dan pemakaman keluarga. Sampai kini tanah yang dipersengketakan itu dianggap Tanah Tak Bertuan, sehingga diklaim sebagai Tanah Negara.

Pada masa pendudukan Jepang, tepian Sungai Musi yang berada tidak jauh dari lokasi masjid dikeruk untuk keperluan pengambilan bahan batubara oleh pihak TABA Keretaapi. Akibat pengerukan, tanah yang berada di pinggiran sungai yang berbatasan dengan masjid, sejak tahun 1943 sampai 1980, mengalami longsor. Baik oleh arus sungai maupun curah hujan yang tinggi. Sehingga hanya menyisakan jarak dua meter lagi dari tepi sungai dengan mihrab masjid.

Pada tahun 1969 dibentuk Yayasan Masjid Kiai Muara Ogan yang diketuai oleh Masagus Haji Abdul Karim Dung, dengan maksud memperoleh perhatian pemerintah untuk mengatasi longsor di lahan masjid. Lalu pemerintah memberikan kucuran Rp 10 juta pada tahun 1980, untuk membangun tanggul penahan sepanjang tepian Sungai Musi yang berbatasan dengan lahan masjid.

Sosok sang pendiri Masjid adalah seorang ulama besar yang berpengaruh di Palembang. Masagus Haji Abdul Hamid bin Mahmud dilahirkan pada tahun 1811. Beliau menimba ilmu keagamaan di tanah suci Mekkah dalam waktu yang cukup lama, sebelum melakukan perjalanan syiar Islam di Palembang.

Kiai Muara Ogan gigih berda’wah menyiarkan Islam ke seluruh pesolok Palembang. Gemblengan dan didikan para ulama Mekkah terhadap dirinya telah melahirkan sosok yang tegar dan berani. Berkelana dari kampung ke kampung menyusuri Sungai Musi mendayungi perahunya sendiri. Terkadang murid beliau disertakan dalam perjalanan menuju Belindo, Tanjung Raya, Inderalaya, dan daerah lainnya.

Pola pengajaran beliau terpusat di masjid. Fungsi masjid dioptimalkan sebagai pusat kegiatan dan menerapkan pendidikan ala pesantren. Beliau tidak membangun pesantren karena lebih menyukai cara ini. Perhatian beliau terhadap masjid sangat besar. Setiap daerah yang beliau kunjungi selalu dibangun sebuah surau. Jika menemui masjid dalam kondisi rusak, tidak segan beliau keluarkan sebagian hartanya untuk memulihkannya.

Pada mulanya masjid yang dikenal sebagai Masjid Kiai Muara Ogan ini bernama Masjid Jami’ Kiai Haji Abdul Hamid bin Mahmud. Namun lebih dikenal dengan sebutan Masjid Kiai Muara Ogan, karena letaknya berada di tepian pertemuan Sungai Ogan dan Sungai Musi. Beliau sendiri dikenal dengan sebutan Kiai Muara Ogan. Nama Muara Ogan sendiri pada akhirnya berubah menjadi Merogan. Sehingga Kiai Masagus sering pula disebut dengan Kiai Merogan. Nama masjidnya pun mengikuti nama panggilan beliau yang populer, Masjid Merogan.

Masjid ini digunakan Kiai Merogan sebagai tempat ibadah, mengaji dan mendalami agama Islam bagi keluarga beliau dan masyarakat yang tinggal di kampung Karang Berahi Kertapati pada awalnya. Seiring bertambahnya murid beliau yang datang dari berbagai kampung, fungsi masjid ditingkatkan untuk tempat sholat jum’at. Masjid yang semula milik pribadi beliau, diwakafkan untuk ummat yang diresmikan pada tanggal 6 Syawal 1310 H (23 April 1893 M). Maka masjid ini berubah menjadi masjid jami’.

Salah satu murid Kiai Merogan yang menjadi kawan karib beliau adalah Kiai Kemas Haji Abdurahman Delamat. Kiai Kemas yang dikenal sebagai Kiai Delamat membangun perguruan sendiri dan mendirikan Masjid Al-Mahmudiyah Suro yang berada di daerah 32 Ilir Palembang.

Menjelang wafat, beliau berpesan kepada murid-muridnya, setelah wafat nanti dirinya dimakamkan di dekat masjid yang beliau bangun. Permintaannya terpenuhi, pada tanggal 31 Oktober 1901, beliau dimakamkan di halaman samping masjid oleh murid-muridnya.

Untuk mengenang ketokohan beliau, sebuah jalan raya yang berada di simpat empat Jembatan Musi II Kemang Agung hingga simpang empat Jembatan Kertapati 1 Ulu Palembang, di beri nama Jalan Kiai Merogan.

Masjid Kiai Muara Ogan hingga kini banyak dikunjungi oleh peziarah. Setidaknya hampir seratus orang setiap hari berziarah ke masjid untuk menikmati nuansa spiritual bangunan peninggalan Kiai Muara Ogan, mengunjungi makam sang pendirinya.

December 17, 2008 - Posted by | Masjid

2 Comments »

  1. mokasih yoh kak infonyo🙂 dah lamo pengen tau “kisah” di balik masjid kimerogan nih.. thx yoh kak

    Comment by BikPici | July 29, 2009 | Reply

  2. Trimokasih nian aku jadi yau riwayat Kiyai Datuk Merogan,yg bener ,cuma aku masih ndaK tau masalah aslinyo dio wong dari Siam kereno anaknya yg sudah lamo dicita2kenyo ilang waktu magrib dikamar .Kereno itulah dio munajat lg ado peyunjuk anaknyo ado diMekah.kalu nak betemu dio mesti pegi keMekah masok Islam .Tapi anaknyo dak boleh digawak balek kereno sudah diembek oleh Allah>Balek dari mekah baru dio nyebarkeun agamo Islam.sejak itulah dio juga pacak ngubati penyakit macem2.temasok yaiku yg lahir th1892.ibukku jugo yg makini umurnyo 87th pernah diubati olh beliau.Aku dewek maini la umur 68th.Aku nak tau namo asli cinonyo.apo,tolong njuk tau yo.Terimokasih

    Comment by Asmara Hariani | February 16, 2012 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: